Senin, 28 Maret 2011

Mengapa Dosa Tak Lelah Menemaniku?

Bermuara pada suatu ikatan yang bersemi dan cukup bagiku untuk menyimpannya didalam suatu tempat yang teramat dalam. Daun-daun dipepohonan dengan suka relanya mereka menulis akan kisah yang ku alami. Tarbiyah yang telah ku lalui pun menguatkan iman pada diri pribadi. Sibuknya diri seakan lupa akan suatu hal yang mungkin berlumurkan dosa. Mulai mentarbiyah diri dan mentarbiyah siapa pun yang dihidangkan padaku seakan menambah kokohnya ragaku dan software pada diriku. Suatu contoh bagi orang-orang yang akan ku samakan dengan pemikiranku.

Bendungan yang kokoh, batu yang keras pun akan ada waktu dimana ia akan tumbang dikikis oleh air. Air yang dengan sabarnya pun bekerja seolah tiada lelah padanya. Kini mengapa dikala aku rehat sejenak dari padatnya hariku, justru waktu itulah yang membawakan ku pada keluputan yang seharusnya tidak aku lakukan. Merasa berdosa dan takut pada-Nya.
Ketika ku merasa berdosa aku pun masih tetap ada rasa yang selalu bergejolak padaku. Diam-diam aku pun masih mengingat itu. Bingung aku,.. finansial pun masih meragukan untuk diriku. Manhaj perjuangan hidupku masih aku mencarinya dan aku perjuangkan.
Perhatian itu memang aku rasakan di kala aku tak jauh dari si perawat aku yang dari masa lahirku hingga jadilah aku sekarang. Sekarang aku malah menjauhinya jauuuh terpisahkan samudera.
Dosa memang tak lelah menyertai hamba-hamba-Nya. Aku mencoba melepaskan hasratku yang sudah ku minimalisir kadar dosanya. Namun, dosa tetaplah dosa. Dan aku sudah berdosa membuatnya tahu akan diriku yang tak mampu menahan hasrat. Aku yakin aku bukanlah bangsat!

MAHMUD BASUKI

0 komentar:

Posting Komentar

اُنْظُرْ مَا قَالَ, وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan. [Ali Bin Abi Thalib]

Silahkan tinggalkan pesan dengan baik dan santun.