Kamis, 19 Januari 2012

23 ATAU 24 USTADZ? (part 2)


23 ATAU 24 USTADZ? (part 1)
PUTIH langkahkan kaki meninggalkan pondok tersebut. Mulailah PUTIH meniti perjalanan seorang diri meninggalkan pondok. Dalam perjalanannya terjadilah hujan yang sangat lebat. Saat itu ada pohon besar dan PUTIH mengkondisikan dirinya dibawah pohon besar tersebut. Namun teringat akan pesan ustadz bahwa jangan dibawah pohon besar saat hujan. Bergegas PUTIH untuk berpindah dari pohon besar itu dan mencari tempat lain untuk berteduh. Berpindahlah PUTIH dari pohon itu, dari tempat ia berteduh PUTIH menatap pohon besar tersebut. "jelegaaar" suara gemuruh yang dibarengi petir kilat dahsyat menyambar pohon besar tadi. 
Hanguslah pohon besar tadi.

"Subhanallah, Allahu Akbar" bergumam PUTIH atas kekuasaan Allah yang maha besar. "Ya Allah Maha Besar Engkau ya Allah, sekiranya PUTIH tadi masih di bawah pohon tersebut apalah jadinya PUTIH" kata PUTIH bermunajat.
Setelah kejadian itu, PUTIH justru rindu dengan ustadz karena nasehat ustadz bisa menghantarkan PUTIH dalam keselamatan. PUTIH memutuskan untuk kembali ke Pondok Pesantren dan segera menemui ustadz 23 untuk menceritakan kejadian-kejadian yang dialami PUTIH sekaligus akan bincang-bincang secara empat mata (tidak ada si HITAM).

Berceritalah PUTIH seperti apa yang dialaminya kepada sang ustadz dan mengucapkan terimakasih atas nasehat yang diberikan sehingga telah menyelamatkan PUTIH dari maut.

Dalam obrolannya barulah PUTIH menanyakan atas jawaban ustadz yang berpihak kepada HITAM yang jelas jawaban itu salah yaitu 8x3=23.
PUTIH      : Ustadz kenapa ustadz berpihak kepada HITAM yang jelas jawaban itu salah. Sungguh hal itu sangat mengecewakan PUTIH.
USTADZ  : sesungguhnya 8x3=24 bukan 23. Namun dengan angka 23 itu ustadz merasa bisa menyelamatkan nyawa HITAM. Ustadz tidak mau hanya gara-gara 24, menimbulkan kematian seseorang. Ustadz pun tidak berniat untuk mengecewakan PUTIH.
PUTIH      : subhanallah ust. (sembari tangan PUTIH mengusap rembasan air matanya).

HIKMAH SEHAT USTADZ 23
"Orang yang kaya adalah orang yang pandai dalam mengambil hikmah". Mahmud
Dari kulasan cerita tersebut diatas, seorang ustadz berbuat kebohongan yang sungguh itu benar-benar salah. Namun hal itu sangat kita apresiasi terhadap "alasan" yang mungkin akan lebih salah jika kita tidak menimbangnya terlebih dahulu. Maka dari itu mari kita timbang lebih besar mana manfaatnya atau lebih kecil mana mudharatnya. Janganlah kita langsung memfonis segala sesuatu "oh itu baik oh itu buruk" akan tetapi mari kita kedepankan POSITIF yang tinggi yang menjadikan kita orang yang POSITIF pula.

Menjadi orang yang hebat pun haruslah mempunyai keputusan yang hebat dan lantang dalam memutuskan, tidak ragu, dan jelas yang mempunyai alasan yang real (baca: 23). Terkadang ada seorang bawahan yang memotret asal jepret kepada atasan. Keputusan-keputusan yang diambil dianggap SALAH BESAR sedang mereka bercuap-cuap yang tidak bisa menimbang dan dengan kacamata yang jauh dari kesempurnaan. Di sini saya tidak akan condong kepada siapapun, namun yang saya tekankan adalah mari jika kita sebagai bawahan haruslah mengkaji ulang dan meluas sebelum cuap-cuap. Seperti dalam kisah cerita diatas, mungkin bagi PUTIH ustadz yang menjadi pengayomnya telah SALAH BESAR sehingga ia memutus kan untuk pergi dari pondok pesantren karena ustadz yang menjadi pedomannya telah melakukan KEBOHONGAN PUBLIK. Sementara ustadz adalah orang terbaik yang bijak dalam menimbang keputusan. Sebaliknya, untuk orang yang menjadi atasan (presma, kepala suku, bupati, menteri, gubernur, presiden sekalipun) mari jangan paksakan bawahan untuk BERBOHONG atas kebaikan Anda, mencitrakan bahwa Anda baik dan kebaikan lainnya sementara Anda HANCUR DARI SEGI KEIMANAN. "Janganlah hanya menjadi catatan penting, tapi jadilah orang-orang yang benar-benar penting" (Purna Bayu).

Sebagai contoh lain, jangan paksakan juga suami berbohong kepada istri. Masakan istri jelas tidak enak, si istri bertanya : enak tidak pak masakan mama? meskipun tidak enak pastinya suami akan menjawab jawaban yang simpel : ya enak ma. Semestinya istri bertanya : kurang pedas ya pak? ke-asinan ya pak? dll. Pastinya suami pun akan menjawab dengan simple : ya.

Anda adalah orang yang terbaik dalam mengambil keputusan dan mencari kemanfaatan yang lebih besar dari pada kemudharatannya. Apalagi berbicara masalah sistem birokrasi, kita harus lebih pandai dalam menyikapi dan harus pandai dalam menimbang. Jadikan KEIMANAN adalah landasan. Orang-orang yang belum paham birokrasi mengatakan "oh itu SALAH, OH ITU DOSA BESAR" tanpa tahu dampak SALAH yang akan lebih besar lagi akibat keputusan. Dalam hal ini biarkan KEIMANAN yang berbicara.

Saya simpulkan kebohongan ustadz yang menjawab 8x3=23 dalam cerita di atas adalah dalam kategori ma'fu yaitu dimaafkan dan diperbolehkan bahkan dianjurkan demi keselamatan nyawa seseorang. Saya tegaskan kembali hal ini tidak termasuk kategori dosa.

Lalu apa komentar Anda?
Anda berkomentar dengan lillahi ta'ala pasti berpahala. Karena kebaikan itu butuh PROSES.

0 komentar:

Posting Komentar

اُنْظُرْ مَا قَالَ, وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan. [Ali Bin Abi Thalib]

Silahkan tinggalkan pesan dengan baik dan santun.