Sabtu, 11 Februari 2012

BIBIR MERAHKU DI PERJALANAN ADZAN

Kolong langit - Mengenang sejarah adzan, perlu diketahui adzan mulai disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Mulanya, pada suatu hari Nabi Muhammad SAW mengumpulkan para sahabat untuk syuro (bermusyawarah) bagaimana cara memberitahu masuknya waktu shalat dan mengajak orang ramai agar berkumpul ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Dengan berbagai usulan-usulan maka terciptalah kalimat-kalimat adzan yang telah diaplikasikan pada masyarakat dari zaman rasulullah hingga sampai saat ini.

"Tiiit... tiiit...tiiit" bunyi alarm jam masjid yang cukup modern sehingga pada masa-masa tiba waktu shalat 5 waktu ia berbunyi secara otomatis. Bunyi tersebut menandakan bahwa shalat subuh telah tiba, bergegas aku menuju mic (pengeras suara) yang terletak diatas meja pojok kanan mimbar tepatnya di sebelah paling utara. Aku letakkan mixc tersebut pada penyangga mic agar aku dapat berkumandang tanpa harus memegangi mic tersebut. Sebelumnya aku alihkan saklar power dan saklar untuk toa suara diluar pada posisi ON. Ibu jariku menghentakkan mic sebagai pertanda hidup tidaknya mic tersebut. "duggg" suara mic yang menandakan mic benar-benar menyala dan siap digunakan.

Aku tarik nafas dalam-dalam dan berkumandang:
"Allahu akbar Allahu akbar 2x
Ashadu an laa ilaahaillallaah 2x
Ashadu anna Muhammadarrasulullaah 2x
Khayya 'alas shalaah 2x
Khayya 'alalfalaakh.... Khayya 'alalfala upp" 
terkejut aku saat bibirku terasa ada yang menggigit, rasanya mendekati seperti gigitan semut. Terhenti aku sejenak agak lama tidak seperti jeda-jeda sebelumnya. Menanggapi kejadian ini spontan aku agak menjaga jarak antara bibir merahku dengan mic dan aku buka mata tidak aku pejamkan lagi agar aku bisa melihat jarak bibir merahku dengan mic. Sambil menahan tawa dalam hatiku yang itu memang benar-benar harus aku tahan mengingat cukup banyak jamaah bapak-bapak yang sudah berdatangan. Aku lanjutkan kumandangku sambil menjaga jarak agar tidak terjadi lagi rasa gigitan semut itu. Kembali aku menarik nafas dan kelanjutkan:
"asshalaatu khoirum minannaum 2x
Allahu akbar Allahu akbar
Laa ilaa haillallah" 
Berdo'aku di dalam hati dan aku alihkan saklar power dalam keadaan OFF.

Usai shalat sunah aku bergumam didalam hati. Untung tadi terjadi dipenghujung kalimat yang mungkin tidak terlalu tampak jelek adzannya. Seraya aku membayangkan, andai hal itu terjadi ditengah-tengah kalimat, dan terputus kalimat adzan tersebut, hehe membayangkannya saja rasanya ingin tertawa, apalagi bila terjadi saat kumandang adzan berjalan. Pasti membuat tertawa jamaah yang mendengarnya.

Gokil hal ini terjadi karena disaat berkumandang nada tinggi telah berlangsung ditambah mataku yang terpejam membuat bibirku menyentuh mic yang terpasang dipenyangga mic tersebut. Sementara bibir amatlah sensitif dan selalu dalam kondisi basah sehingga tentan tersetrum jika dihadapkan pada hal-hal yang bernuansa arus listrik.

Mulai saat ini aku tidak mau pakai penyangga mic lagi, lebih baik dipegang dan jempol adalah sebagai tameng antara bibir merahku dengan mic. Cerita ini menjawab dari perlakuanku yang tidak lagi memanfaatkan penyangga mic dikala kumandang adzan dilangsungkan.

Mahmud Basuki 2012

0 komentar:

Posting Komentar

اُنْظُرْ مَا قَالَ, وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan. [Ali Bin Abi Thalib]

Silahkan tinggalkan pesan dengan baik dan santun.