ALLAH TIDAK PERNAH MENGUJI KITA

Allah Tidak Pernah Menguji Kita, Melainkan Sesuatu yang Kita Anggap Ujian adalah Sebuah Nikmat yang Belum Terlihat. (Mahmud Basuki)

KOMENTAR

Komentar Anda Secara Tidak Disadari Telah Mengomentari Anda. So, Berkomentarlah yang Baik-baik. (Mahmud Basuki)

SEMANGAT BABAT ALAS

Tuntaskan Amanat, Memaksimalkan Prioritas Utama - QS. Al-Anfal: 27

TETAP BERDO'A LALU BERUSAHA

Ya Allah ketika kami berbaik sangka dengan orang lain, maka baikkanlah prasangka itu sesuai prasangka baik kami ya Allah, jauhkan dari ketidak sesuaian prasangka baik kami. (Mahmud Basuki)

Kamis, 19 Januari 2012

23 ATAU 24 USTADZ? (part 2)


23 ATAU 24 USTADZ? (part 1)
PUTIH langkahkan kaki meninggalkan pondok tersebut. Mulailah PUTIH meniti perjalanan seorang diri meninggalkan pondok. Dalam perjalanannya terjadilah hujan yang sangat lebat. Saat itu ada pohon besar dan PUTIH mengkondisikan dirinya dibawah pohon besar tersebut. Namun teringat akan pesan ustadz bahwa jangan dibawah pohon besar saat hujan. Bergegas PUTIH untuk berpindah dari pohon besar itu dan mencari tempat lain untuk berteduh. Berpindahlah PUTIH dari pohon itu, dari tempat ia berteduh PUTIH menatap pohon besar tersebut. "jelegaaar" suara gemuruh yang dibarengi petir kilat dahsyat menyambar pohon besar tadi. 
Hanguslah pohon besar tadi.

"Subhanallah, Allahu Akbar" bergumam PUTIH atas kekuasaan Allah yang maha besar. "Ya Allah Maha Besar Engkau ya Allah, sekiranya PUTIH tadi masih di bawah pohon tersebut apalah jadinya PUTIH" kata PUTIH bermunajat.
Setelah kejadian itu, PUTIH justru rindu dengan ustadz karena nasehat ustadz bisa menghantarkan PUTIH dalam keselamatan. PUTIH memutuskan untuk kembali ke Pondok Pesantren dan segera menemui ustadz 23 untuk menceritakan kejadian-kejadian yang dialami PUTIH sekaligus akan bincang-bincang secara empat mata (tidak ada si HITAM).

Berceritalah PUTIH seperti apa yang dialaminya kepada sang ustadz dan mengucapkan terimakasih atas nasehat yang diberikan sehingga telah menyelamatkan PUTIH dari maut.

Dalam obrolannya barulah PUTIH menanyakan atas jawaban ustadz yang berpihak kepada HITAM yang jelas jawaban itu salah yaitu 8x3=23.
PUTIH      : Ustadz kenapa ustadz berpihak kepada HITAM yang jelas jawaban itu salah. Sungguh hal itu sangat mengecewakan PUTIH.
USTADZ  : sesungguhnya 8x3=24 bukan 23. Namun dengan angka 23 itu ustadz merasa bisa menyelamatkan nyawa HITAM. Ustadz tidak mau hanya gara-gara 24, menimbulkan kematian seseorang. Ustadz pun tidak berniat untuk mengecewakan PUTIH.
PUTIH      : subhanallah ust. (sembari tangan PUTIH mengusap rembasan air matanya).

HIKMAH SEHAT USTADZ 23
"Orang yang kaya adalah orang yang pandai dalam mengambil hikmah". Mahmud
Dari kulasan cerita tersebut diatas, seorang ustadz berbuat kebohongan yang sungguh itu benar-benar salah. Namun hal itu sangat kita apresiasi terhadap "alasan" yang mungkin akan lebih salah jika kita tidak menimbangnya terlebih dahulu. Maka dari itu mari kita timbang lebih besar mana manfaatnya atau lebih kecil mana mudharatnya. Janganlah kita langsung memfonis segala sesuatu "oh itu baik oh itu buruk" akan tetapi mari kita kedepankan POSITIF yang tinggi yang menjadikan kita orang yang POSITIF pula.

Menjadi orang yang hebat pun haruslah mempunyai keputusan yang hebat dan lantang dalam memutuskan, tidak ragu, dan jelas yang mempunyai alasan yang real (baca: 23). Terkadang ada seorang bawahan yang memotret asal jepret kepada atasan. Keputusan-keputusan yang diambil dianggap SALAH BESAR sedang mereka bercuap-cuap yang tidak bisa menimbang dan dengan kacamata yang jauh dari kesempurnaan. Di sini saya tidak akan condong kepada siapapun, namun yang saya tekankan adalah mari jika kita sebagai bawahan haruslah mengkaji ulang dan meluas sebelum cuap-cuap. Seperti dalam kisah cerita diatas, mungkin bagi PUTIH ustadz yang menjadi pengayomnya telah SALAH BESAR sehingga ia memutus kan untuk pergi dari pondok pesantren karena ustadz yang menjadi pedomannya telah melakukan KEBOHONGAN PUBLIK. Sementara ustadz adalah orang terbaik yang bijak dalam menimbang keputusan. Sebaliknya, untuk orang yang menjadi atasan (presma, kepala suku, bupati, menteri, gubernur, presiden sekalipun) mari jangan paksakan bawahan untuk BERBOHONG atas kebaikan Anda, mencitrakan bahwa Anda baik dan kebaikan lainnya sementara Anda HANCUR DARI SEGI KEIMANAN. "Janganlah hanya menjadi catatan penting, tapi jadilah orang-orang yang benar-benar penting" (Purna Bayu).

Sebagai contoh lain, jangan paksakan juga suami berbohong kepada istri. Masakan istri jelas tidak enak, si istri bertanya : enak tidak pak masakan mama? meskipun tidak enak pastinya suami akan menjawab jawaban yang simpel : ya enak ma. Semestinya istri bertanya : kurang pedas ya pak? ke-asinan ya pak? dll. Pastinya suami pun akan menjawab dengan simple : ya.

Anda adalah orang yang terbaik dalam mengambil keputusan dan mencari kemanfaatan yang lebih besar dari pada kemudharatannya. Apalagi berbicara masalah sistem birokrasi, kita harus lebih pandai dalam menyikapi dan harus pandai dalam menimbang. Jadikan KEIMANAN adalah landasan. Orang-orang yang belum paham birokrasi mengatakan "oh itu SALAH, OH ITU DOSA BESAR" tanpa tahu dampak SALAH yang akan lebih besar lagi akibat keputusan. Dalam hal ini biarkan KEIMANAN yang berbicara.

Saya simpulkan kebohongan ustadz yang menjawab 8x3=23 dalam cerita di atas adalah dalam kategori ma'fu yaitu dimaafkan dan diperbolehkan bahkan dianjurkan demi keselamatan nyawa seseorang. Saya tegaskan kembali hal ini tidak termasuk kategori dosa.

Lalu apa komentar Anda?
Anda berkomentar dengan lillahi ta'ala pasti berpahala. Karena kebaikan itu butuh PROSES.

Selasa, 17 Januari 2012

23 ATAU 24 USTADZ? (part 1)

        Subuh ini 17 Januari 2012 yang memberi kultum subuh adalah Bpk. Suhartoto (pak totok). Beliau bercerita untuk jam'ah Nurul Ilmi.
        Di sebuah Pondok Pesantren yang dipimpin oleh seorang ulama yang luar biasa dalam berdakwah. Di dalamnya terdapat santri yang bernama HITAM dan yang satu bernama PUTIH. Mereka mempunyai pendapat masing-masing terkait hasil dari 8x3. PUTIH berpendapat hasil dari 8x3 adalah 24, sedang HITAM berpendapat hasil dari 8x3 adalah  23. Perbedaan pendapat ini pun menimbulkan perdebatan yang hebat diantara mereka dan berpegang teguh atas jawaban mereka masing-masing secara individu adalah yang paling benar. Sehingga HITAM membuat kesepakatan dengan PUTIH yang tertera pada dialog dibawah ini:

HITAM : oke, kita tanyakan ustadz saja. Kalo jawaban ustadz adalah 23 maka topi mahkotamu itu jadi milikku, kalau jawabannya 24 maka aku akan terjun dari jurang.
PUTIH   : baiklah kita tanyakan ustadz saja.

Di waktu yang mereka sepakati, HITAM dan PUTIH menemui ustadz dikediamannya. Mereka ketuk pintu rumah ustadz sembari mengucapkan salam.
USTADZ             : Wa'alaikum salam, ehh HITAM, PUTIH. Masuk masuk. silahkan duduk.
HITAM, PUTIH : iya ustadz
USTADZ             : gimana? ada apa?
HITAM              : gini ustadz, kami berdua mempunyai pendapat yang berbeda. Mengenai hasil dari 8x3. dan kami ingin mencari kebenarannya melalui ustadz. Jawaban HITAM 23 dan jawaban PUTIH 24. Kalau jawaban HITAM benar maka topi mahkota milik PUTIH menjadi milik HITAM. Tapi kalau jawaban PUTIH benar maka HITAM mau terjun jurang. Sebenarnya mana yang benar ustadz?
USTADZ            : jawaban yang benar adalah 23.

        Hal ini membuat PUTIH kecewa atas jawaban ustadz. Mereka pulang ke asrama masing-masing dan topi mahkota PUTIH menjadi milik HITAM.
        Dengan hari yang berbeda, dengan bahasa yang santun dan alasan sudah lama di Pondok ini, PUTIH pamit kepada Ustadz untuk meninggalkan pondok pesantren. Ustadz pun tau kondisi perasaan PUTIH dengan hal itu.

PUTIH    : Ustadz, PUTIH sudah cukup lama dipondok pesantren ini, sangat banyak ilmu yang sudah PUTIH dapatkan maka dari itu PUTIH ucapkan syukron jazakallah telah membimbing PUTIH sampai saat ini, PUTIH minta keikhlasannya untuk memaafkan kesalahan2 PUTIH yang telah diperbuat. PUTIH sudah kangen dengan keluarga di kampung, PUTIH disini mau pamit untuk meninggalkan pondok pesantren ini ustadz.
USTADZ : PUTIH, anakku. Ustadz juga minta maaf atas kesalahan2 ustadz disengaja maupun tidak. Semoga ilmu yang PUTIH dapatkan berkah nak. Ustadz hanya berpesan ketika diperjalanan nanti PUTIH mendapati hujan lebat, maka jangan PUTIH berteduh dipohon besar karena rawan disambar petir. Berteduhlah selain di pohon besar.
PUTIH : syukron ustadz.

Bersambung dipostingan selanjutnya.