ALLAH TIDAK PERNAH MENGUJI KITA

Allah Tidak Pernah Menguji Kita, Melainkan Sesuatu yang Kita Anggap Ujian adalah Sebuah Nikmat yang Belum Terlihat. (Mahmud Basuki)

KOMENTAR

Komentar Anda Secara Tidak Disadari Telah Mengomentari Anda. So, Berkomentarlah yang Baik-baik. (Mahmud Basuki)

SEMANGAT BABAT ALAS

Tuntaskan Amanat, Memaksimalkan Prioritas Utama - QS. Al-Anfal: 27

TETAP BERDO'A LALU BERUSAHA

Ya Allah ketika kami berbaik sangka dengan orang lain, maka baikkanlah prasangka itu sesuai prasangka baik kami ya Allah, jauhkan dari ketidak sesuaian prasangka baik kami. (Mahmud Basuki)

Sabtu, 11 Februari 2012

BIBIR MERAHKU DI PERJALANAN ADZAN

Kolong langit - Mengenang sejarah adzan, perlu diketahui adzan mulai disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Mulanya, pada suatu hari Nabi Muhammad SAW mengumpulkan para sahabat untuk syuro (bermusyawarah) bagaimana cara memberitahu masuknya waktu shalat dan mengajak orang ramai agar berkumpul ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Dengan berbagai usulan-usulan maka terciptalah kalimat-kalimat adzan yang telah diaplikasikan pada masyarakat dari zaman rasulullah hingga sampai saat ini.

"Tiiit... tiiit...tiiit" bunyi alarm jam masjid yang cukup modern sehingga pada masa-masa tiba waktu shalat 5 waktu ia berbunyi secara otomatis. Bunyi tersebut menandakan bahwa shalat subuh telah tiba, bergegas aku menuju mic (pengeras suara) yang terletak diatas meja pojok kanan mimbar tepatnya di sebelah paling utara. Aku letakkan mixc tersebut pada penyangga mic agar aku dapat berkumandang tanpa harus memegangi mic tersebut. Sebelumnya aku alihkan saklar power dan saklar untuk toa suara diluar pada posisi ON. Ibu jariku menghentakkan mic sebagai pertanda hidup tidaknya mic tersebut. "duggg" suara mic yang menandakan mic benar-benar menyala dan siap digunakan.

Aku tarik nafas dalam-dalam dan berkumandang:
"Allahu akbar Allahu akbar 2x
Ashadu an laa ilaahaillallaah 2x
Ashadu anna Muhammadarrasulullaah 2x
Khayya 'alas shalaah 2x
Khayya 'alalfalaakh.... Khayya 'alalfala upp" 
terkejut aku saat bibirku terasa ada yang menggigit, rasanya mendekati seperti gigitan semut. Terhenti aku sejenak agak lama tidak seperti jeda-jeda sebelumnya. Menanggapi kejadian ini spontan aku agak menjaga jarak antara bibir merahku dengan mic dan aku buka mata tidak aku pejamkan lagi agar aku bisa melihat jarak bibir merahku dengan mic. Sambil menahan tawa dalam hatiku yang itu memang benar-benar harus aku tahan mengingat cukup banyak jamaah bapak-bapak yang sudah berdatangan. Aku lanjutkan kumandangku sambil menjaga jarak agar tidak terjadi lagi rasa gigitan semut itu. Kembali aku menarik nafas dan kelanjutkan:
"asshalaatu khoirum minannaum 2x
Allahu akbar Allahu akbar
Laa ilaa haillallah" 
Berdo'aku di dalam hati dan aku alihkan saklar power dalam keadaan OFF.

Usai shalat sunah aku bergumam didalam hati. Untung tadi terjadi dipenghujung kalimat yang mungkin tidak terlalu tampak jelek adzannya. Seraya aku membayangkan, andai hal itu terjadi ditengah-tengah kalimat, dan terputus kalimat adzan tersebut, hehe membayangkannya saja rasanya ingin tertawa, apalagi bila terjadi saat kumandang adzan berjalan. Pasti membuat tertawa jamaah yang mendengarnya.

Gokil hal ini terjadi karena disaat berkumandang nada tinggi telah berlangsung ditambah mataku yang terpejam membuat bibirku menyentuh mic yang terpasang dipenyangga mic tersebut. Sementara bibir amatlah sensitif dan selalu dalam kondisi basah sehingga tentan tersetrum jika dihadapkan pada hal-hal yang bernuansa arus listrik.

Mulai saat ini aku tidak mau pakai penyangga mic lagi, lebih baik dipegang dan jempol adalah sebagai tameng antara bibir merahku dengan mic. Cerita ini menjawab dari perlakuanku yang tidak lagi memanfaatkan penyangga mic dikala kumandang adzan dilangsungkan.

Mahmud Basuki 2012

Rabu, 08 Februari 2012

PINJAM MOTOR POLISI

Seturan Yogya - Hari selasa ini (7/2/12) saat perjalananku dari Masjid Nurul Ilmi kediamanku menuju Asrama Randik untuk memenuhi waktu yang ditetapkan pukul 07.00 WIB harus tiba disana guna persiapan Rihlah Forsilam ke Gunung Kidul. Dari kediamanku ke Asrama Randik membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Apalagi bila arus lalu lintas yang mulai ramai, tentunya butuh waktu yang lebih lama lagi. Oleh karenanya pukul 06.00 WIB aku bergegas persiapkan diri dan tepat pukul 06.30 WIB aku memulai perjanalan dan Asrama Randik adalah tujuannya.
Display indikator spedometer mulai berkedip pertanda bahan bakar harus di isi ulang. Melihat kondisi SPBU jalan Gejayan yang masih dalam perbaikan, maka aku niatkan untuk mengisi kendaraanku di SPBU seturan tepatnya dari Ambarukmo Plaza (AMPLAZ) ke timur. Namun, belum sampai pada SPBU kendaraanku mulai sulit untuk di gas, dan mulai mogok didepan AMPLAZ. Terpaksa aku menuntunnya hingga sampai. Sambil menuntun aku berusaha untuk menghidupkannya lagi. Tenyata masih hidup namun sedikit memaksa dengan amunisi gas yang agak berlebih. Kemudian aku kendarai kembali dengan cepat-cepat dan kecepatan kencang hingga sampai roda kendaraan dapat sampai didepan SPBU meski sebelumnya mesin kendaraan sudah mati namun masih tetap nggeliding sampai di depan SPBU.
Sedikit aku tuntun kendaraan dan sebelumnya aku raba saku sepanku untuk melihat dompetku. Meski berusaha membuka-buka tiap sela dompetku tetap saja tidak ada uang di dalamnya kecuali koin Rp. 200,00-. Terbersit dalam hati, "untung belum masuk dalam antrian" disaat tiada uang sama sekali.
Terparkirlah kendaraanku di ujung sudut. Dan Alhamdulillah SPBU tersebut di fasilitasi dengan ATM (anjungan tunai mandiri) BCA. Aku hampiri ATM tersebut yang terletak di dalam mini market, dan sedikit mendekat lagi. "ATM SEDANG OFFLINE" ini pesan singkat didepan layar ATM tersebut. Hmm.. belum rejeki.
"ATM terdekat disini dimana ya mas?" tanyaku kepada penjaga mini market tersebut. "wah kurang tahu e mas" jawab penjaga mini market tersebut. Keluar aku meninggalkan ruang tersebut, melihat para pegawai sedang sibuk melayani pelanggannya, aku tidak dapat mengganggunya untuk menanyakan ATM terdekat. Dan alangkah lebih baiknya aku tanyakan kepada pak polisi yang sedang mengatur lalu lintas persis didepan SPBU tersebut.
"Maaf pak ngganggu sedikit, ATM terdekat disini dimana ya pak?" tanyaku pada pada salah satu dari dua polisi yang sedang bekerja mengatur lalu lintas perjalanan. Sesuai arahan dari polisi tersebut cukup jauh rasanya bila ditempuh dengan jalan kaki. "wah jauh juga ya pak" sembari aku sedikit bergumam. "emang kenapa mas?" tanya salah satu polis itu kepadaku. Dan aku ceritakan bahwa aku tidak ada uang untuk mengisi bahan bakar kendaraanku sementara aku butuh ATM.
"Maaf pak bisa pinjam motornya tidak pak?" tanyaku kepada pak polisi. "motor masnya yang mana ya?" pak polisi bertanya sambil melihat arah dimana kendaraanku berada yang telah aku tunjukkan. "diantar saja" kata pak polisi yang satunya. "kunci kontak masnya ditinggal disini saja, pake aja motornya" kata pak polisi yang awal tadi.
Berangkat aku menuju ATM hingga kembali lagi sampai dapat aku mengisi kendaraanku. Terima kasih pak polisi atas motor yang telah dipinjamkan. Semoga polisi-polisi yang lain juga tidak kalah baik seperti bapak.
Saatnya aku meneruskan perjalanan menuju Asrama Randik MUBA dengan bahan bakar yang tidak mengkhawatirkan lagi.


Mahmud Basuki 2012

Senin, 06 Februari 2012

DISPLAY KEBERSIHAN SEBAGAI PENGINGAT


النَّظَافَةُ مِنَ الإِيمَان
Nurul Ilmi - Kebersihan adalah bagian dari pada iman, pepatah arab yang sudah tidak asing dikehidupan.  Iman yang haqiqi bisa juga diaplikasikan melalui bentuk giatnya kita dalam menjaga kebersihan. Baik kebersihan dalam cakupan umum dan khususnya kebersihan kepribadian. Dengan adanya kesadaran akan makna kebersihan maka iman bisa kita sandang dalam kehidupan. 
Kepribadian yang bersih harusnya juga dapat diterapkan pada hal layak umum, bukan sekedar membersihkan kepentingan pribadi, pun demikian untuk kepentingan umum harus lebih ditekankan. Tidak sedikit masyarakat yang enggan untuk menjalankan kebersihan umum, seperti membuang sampah masih sesuka hati padahal ada kotak sampah yang telah disediakan. Terkadang hal ini bisa ditepis dengan alasan tidak ada kotak sampah dan tanpa mau berfikir mencari solusi demi terwujudnya  kebersihan yang menjadikan kita karegori beriman. Hal ini kan bisa saja sampah-sampah yang terlihat sepele menjadikan caruk maruk keindahan yang tak tampak keelokannya lagi. 
Setelah makan permen contohnya, sampah yang kecil tersebut asal landas bertebaran tanpa ada keimanan bagi yang membuangnya. Budaya mengantongi sampah inilah yang harus diterapkan kemudian singgah ditempat sampah lalu membuangnya. Bukan asal buang sembarangan dengan dalih “hidup itu dibikin simple aja gak usah dibikin ribet”.  Dengan tanpa disadari sesungguhnya ribetnya sampah tercipta pada orang yang sembarangan membuangnya. 
Usaha-usaha penanganan itu diantaranya adalah display yang menjadi pengingat kita untuk tetap terus konsisten sadar akan makna kebersihan. Meskipun masih saja terdapat masyarakat yang tadinya bisa membaca, namun ketika berhadapan dengan display tentang menjaga kebersihan menjadi buta huruf yang bersifat sementara. 
Bisa kita berkaca pada kota Palembang dan Surabaya mendapat penghargaan Adipura untuk kategori kota metropolitan. Sedangkan kota Yogyakarta dan Pekanbaru mendapatkan penghargaan Adipura di kategori kota besar. Penghargaan diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada empat walikota di Istana Negara, Selasa, 7 Juni 2011 (sumber: nasional.vivanews.com). 
Tidak ada alasan bagi kita utuk mematuhi display sebagai wujud kesadaran kebersihan, agar alam semakin elok tanpa pelanggaran-pelanggaran yang banyak terjadi.  Ingat!!! Display bukanlah sekedar pajangan yang hanya bisa dipandang,namun hargailah pesan yang tertera pada display tersebut. Kesadaran menghargai segala sesuatu semakin kita menjadi orang yang berharga tentunya. 
Kebersihan adalah perbuatan yang mulia untuk harus kita tanamkan pada diri dan diperhatkan. Jika kita meremehkan hal ini, maka tentu saja dampaknya akan buruk untuk semua orang dan alam. Oleh sebab itu tidak ada alasan lagi buat kita untuk selalu menjaga kebersihan.
Mahmud Basuki 2012