Rabu, 09 Januari 2013

AGAMAMU BUKAN LAINNYA

Objek pembicaraan: aku, dia, dan si Dia
Selesai sudah, dari berbagai perbincanganku kepada dia (teman cukup dekat dengan si Dia) yang aku ingin meminta pendapatnya berbuahkan pada sisi duniawi semata. Lucu juga tapi ini benar-benar aku alami barusan. Awalnya aku anggap dia adalah orang yang sudah paham jauh tentang agama, loh kenapa aku bisa beranggapan demikian hayo? ya jelasnya dia sudah mengenyam pendidikan di pesantren lebih dari cukup.

Mendengar kajian-kajian dari senior yang paham tentang agama, jika kita ingin terhindar dari fitnah jika mau melamar seorang wanita, maka sebaiknya jangan bertanya kepada si dia langsung, karena kemungkinan besar disitulah banyak hal-hal yang bohong atau keadaan yang terlalu didramatisir ketimbang dengan yang benar atau jujur. Dan juga bila kita langsung kepada si dia pati akan menimbulkan dosa-dosa yang tidak terasa. Terus gimana dong? Menurutnya lebih baik bertanya kepada teman karibnya yang dapat dipercaya untuk mencari tahu mengenai si dia. Nah sudah dapat ilmu nih...

Tapi yang ku kualami ini gila bin bener, aku tanya tentang si dia yang akan menjadi referensi atau pun opsi pilihan. Kemudian aku tanya kepada yang cukup dekat keberadaannya dengan si dia, minimal tahu sedikit tentang dialah. Dan orang yang aku tanya ini sudah kenal cukup lama dengan aku. Terus mau tahu gak apa responnya?

"Dia kira-kira kapan selesai studi? Menurutmu lebih baik aku langung ke walinya atau aku konfirmasi ke dia dulu terus baru ke wali? (aku belum tahu tentang si Dia, sekedar simpatik. ketemupun tak pernah)" ini kataku sambil mengotak-atik planning. Gila benar respon orang yang menjadi sumber pertanyaanku ini. Apa jawabnya coba?

"Menurut aku standard cowok idaman si Dia itu tinggi jadi kamu pikir2 dulu dari pada dari pada" katanya. Wah sempit banget ini jadinya persepsi dia tentang aku. Melihat kata "dari pada dari pada", ah kenapa dia yang malah menjadi pesimis. sementara yang akan melakukan ini semua kan aku bukan dia. Ya memang benar kata Dia, kalau hal itu sebagai informasi untuk aku tentang si Dia. Ternyata maksud dari dia ini "dari pada dari pada" adalah maksudnya ditolak. Ahh sempit banget dia.

Perlu diketahui ya, menikah itu kebutuhan bukan sekedar nafsu. Apa tuh bedanya?

Ya kalo kebutuhan itu atas dasar agama, andai ditolak ya fine2 aja. Masih ada opsi lain broo... bukan hanya karena si Dia seleranya tinggi terus mundur sebelum pertempuran, mundur begitu aja, ya tidaklah. Hanya Allah yang bisa menentukan broo. Dan anehnya kenapa dia yang malah jadi pesimistis ya? Sementara aku juga belum kenal benar dengan si Dia, bahkan belum ada cinta untuk si Dia. Hanya ingin tahu tentang si Dia, yang aku sendiri yakin agamanya baik untuk membina keluarga. Bukan karena lain-lain. Eh dia malah mikir yang lain2 ini itu... Emang kamu tahu tentang aku apa? Gak juga kan? Nah, kalau dengan landasan karena agamanya, kalau toh ditolak, ya sudah, cari yang lain. Allah lebih mengetahui kebutuhan hambanya yang terbaik. jadi gak usah mikir "dari pada dari pada". Toh gak juga stress kalo ditolak, gak terus malu dengan si Dia. Ya biasa kan hal semacam ini, yang jelas upaya aku sudah membutuhkan dipaparkan dengan baik. Kalo ditolak, jika memang aku karena aku sudah membutuhkan "otomatis lah aku cari yang lain. Yang tidak lama dari penolakan itu pastinya mendapatkan yang lain. Allah itu maha adil dan maha tahu, ingat ya...

Nah, kalo karena nafsu biasanya ia nunggu melupakan si Dia yang telah menolaknya, karena udah ngebet banget pengen dengan si Dia yang telah menolaknya. biasa tuh anak muda yang karena ditolak apa responnya? Bisa jadi sakit sampe lama, gak nafsu makan, dan nauzubillahnya ke dukun dll. Nah, jelas toh bedanya?

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena martabatnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya, maka hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya"

Sekali lagi banyak2 beristighfar...
Astaghfirullahal 'adzim... 
Astaghfirullahal 'adzim...
Astaghfirullahal 'adzim...

0 komentar:

Posting Komentar

اُنْظُرْ مَا قَالَ, وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan. [Ali Bin Abi Thalib]

Silahkan tinggalkan pesan dengan baik dan santun.