Senin, 21 Oktober 2013

Bogor: Bersama Mas Ridwan

Menuju area pasar Minggu motor mas Ridwan kehabisan bensin, dorong deh. Setelah ketemu temannya disebuah masjid, kami cari makan malam dulu, laper soalnya. Setelah makan, baru melanjutkan perjalanan menuju Bogor. Dua malam aku di Bogor dan 14 Okt 2013 aku pulang ke kontrakan lelek (paman). Sholat Idul Adha di Jakarta.

= = = = = = = = = = = = = = = =

Kurang lebih perjalanan Jakarta menuju Bogor memakan waktu 2 jam. Aku bersama mas Ridwan berboncengan, aku yang di depan, mas Ridwan yang hafidh 30 juz itu di belakang. Sementara temannya mas Ridwan sebut saja Rian berkendara sendirian. Perjalanan malam yang santai, angin menerpa tubuh kami menemani obrolan santai sambil berkendara. Suara mesin berderu, kendaraan satu dengan yang lain saling berpapasan, lampu-lampu jalan tulus menerangi jalanan. Hingga di tengah perjalanan terdapat pesan di hape mas Ridwan yang mengabarkan bahwa motor Rian bocor setelah fly over. Entah fly over daerah mana itu, aku tak paham.

Roda motor menepi ke pinggiran. Stang kemudi berbalik arah menuju fly over. Ban dalam sudah tergantikan, kami melanjutkan perjalanan. Setelah melalui jalan yang becek sepanjang 3 km, akhirnya sampai dan aku matikan mesin. Tepat di sebuah masjid yang terdapat beberapa orang menyapa mas Ridwan.

Berjalan ke timur masjid, gelap tanpa ada lampu, jejakku mengikuti mas Ridwan. Terdapat rumah bernuansa bambu yang berada di tengah kolam. Jembatan dengan lebar 1 meter menghantarkan kami ke rumah tersebut. Gelap tanpa ada penerangan. "krekkk" bunyi pintu yang tak terkunci itu. "Rian kemana mas?" kataku. "gak tau itu" jawab mas ridwan sambil menuju kamar. Lalu sms ke Rian meminta dibelikan lilin.

Satu jam kemudian Rian datang. "Assalamu'alaikum" kata Rian sambil meletakkan tasnya yang isinya antara lain lilin dan snack. Satu demi satu snack itu  terkunyah menemani obrolan malam. Badan terasa tak terkuasakan menahan letih, akhirnya tubuh terbaring menikmati bunyi malam yang khas dan meneduhkan. Di pertengahan rehat, lampu pun menyala. "Stop kontaknya emangnya dimana mas?" tanyaku. "di atas" sahut mas Ridwan. Lampu-lampu yang hidup kami matikan melalui saklar yang ada dan kami lanjutkan rehat kami.

Dua malam lamanya aku di Pesantren elTAHFIDH, mengingatkanku pada suasana lingkungan pondok dulu di Sumatera. Sudut-sudut ruangan yang ada, dipenuhi orang-orang yang menghafal Al-Qur'an. Rian dan mas Ridwan sudah 30 juzz hafal (khaamilul Qur'an: sebutan untuk hafidh Qur'an). Enam juzku yang dulu hanya setoran ke ustadz saat study di pondok, saat ini sangat dipertanyakan.

Di mana aku berada, di sana ada Al-Qur'an.
Berjalanlah selalu bersama Al-Qur'an niscaya menjadi Al-Qur'an berjalan.

Hufadh sejati..
Tercermin dari kepribadian sehari-hari.

Mendengar bunyi ikan lele sudah dirasakan, sholat berjama'ah di sana juga sudah, sarapan pagi sudah terlewati bersama,  ke Mekar Sari lagi renovasi (gak bisa deh), pergi ke suatu masjid di perumahan juga sudah hingga pulang menambah teman baru di rumah tengah kolam itu. Malam pertama hanya 4 orang, malam kedua menjadi 6 orang.

Selasa (14/10/2013) aku panasi motor dan pulang menuju Jakarta setelah sarapan pagi bersama, di warung Ummi dekat pesantren. Semangat berkendara dan say "assalamu'alaikum". "wa'alaikumsalam" sahut penghuni rumah di atas kolam.

Cerita ini tidak mengandung klimaks.

21/10/2013
Ditulis di Jogja, dibaca di mana aja

0 komentar:

Posting Komentar

اُنْظُرْ مَا قَالَ, وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan. [Ali Bin Abi Thalib]

Silahkan tinggalkan pesan dengan baik dan santun.