ALLAH TIDAK PERNAH MENGUJI KITA

Allah Tidak Pernah Menguji Kita, Melainkan Sesuatu yang Kita Anggap Ujian adalah Sebuah Nikmat yang Belum Terlihat. (Mahmud Basuki)

KOMENTAR

Komentar Anda Secara Tidak Disadari Telah Mengomentari Anda. So, Berkomentarlah yang Baik-baik. (Mahmud Basuki)

SEMANGAT BABAT ALAS

Tuntaskan Amanat, Memaksimalkan Prioritas Utama - QS. Al-Anfal: 27

TETAP BERDO'A LALU BERUSAHA

Ya Allah ketika kami berbaik sangka dengan orang lain, maka baikkanlah prasangka itu sesuai prasangka baik kami ya Allah, jauhkan dari ketidak sesuaian prasangka baik kami. (Mahmud Basuki)

Rabu, 23 Oktober 2013

Cara File PDF Tidak Bisa Diedit dan Diprint

Berikut cara melindungi file pdf agar tidak bisa diedit, tidak bisa diprint, atau menginginkan file pdf-mu diberi pasword? Bisa-bisa. Nitro Pro 7 bisa atasi hal ini. Semoga Anda sudah memiliki software Nitro Pro 7.

1. Buka Nitro Pro 7
2. Pilih File - Open

Silahkan pilih file yang akan Anda proses. Seperti gambar berikut:
kemudian klik Open.

3. Pilih File - Document Properties
Lebih praktis silahkan tekan tombol keyboard Ctrl+D secara bersamaan. Sehingga muncul sebagai berikut:

Klik Security

4. Pilih menu Security - Password security. Seperti gambar berikut:

Maka akan tampil seperti gambar berikut:

REQUIRE A PASSWORD TO OPEN THE DOCUMENT: berfungsi untuk memberi password saat membuka file diawal. Pada tutorial ini tidak mencentang tersebut, karena file tetap bisa dibuka tanpa password.
REQUIRE A PASSWORD TO CHANGE SECURITY SETTINGS AND ACCESS SPECIFIC FUNCTIONS: berfungsi untuk mengatur file sesuai keinginan. Seperti contoh sebagai berikut:

Isikan password dan confirm password (sama) sesuai keinginan Anda.
1. Printing allowed: pilih "None" agar tidak dapat diprint.
2. Changes allowed: pilih "None" agar tidak bisa diedit.
3. Jangan dicentang agar tidak dapat diedit.
4. Jangan dicentang agar tidak dapat diedit.

Klik Finish.

Semoga bermanfaat.
Ditulis di Jogja, dibaca di mana aja

Selasa, 22 Oktober 2013

Terjatuh: Senyum Mendamaikan Hati

Menunggu tukang pijat datang ke kosku, yang kata ibu kos ia akan datang ba'da Magrib. Sambil menunggu aku sempatkan menulis ini. Tukang pijat yang tak kunjung datang, lalu aku keluar untuk membeli kacang rebus di pelataran depan Kampus UII Kaliurang. Hingga aku kembali lagi sampai kos, tukang pijat itu belum kunjung datang. Padahal badan ini sudah tak sabar melepas pegas-pegal yang tak karuan.

Pasca jatuh dari motor kemaren Senin 21 Okt 2013, badanku mulai pegal-pegal. Punggung, bahu, lengan tengah, semua terasa pegal setelah satu jam dari jatuh. Lutut yang lecet sedikit membuat gerakan sholat yang bertambah. Pergerakan lutut tidak masalah, namun saat duduk diantara dua sujut maupun duduk takhiyat, lutut ini tak mau bersentuhan dengan lantai, hingga sedikit aku angkat, hal ini menjadikan kiblatku sedikit berbelok.

Tempat kejadian perkara (TKP) di Jl. Timoho selatan rel kereta api. Sebelumnya, pagi hari aku ke Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY yang terletak di ringroad utara sebelah Lotte Mart. Kemudian dilanjut ke SDIT LHI Kota Gede DIY untuk menghantarkan beberapa berkas. Mulai bertemu satpam SDIT LHI, masuk ruangan, memberikan berkas, melihat-lihat suasana, hingga pergi lagi.

Di perjalanan menuju UIN, aku sempatkan mampir di kontrakan Ustadz Andang dan Ustadz Eko yang berlokasi di belakang Gedung Erlangga Kota Gede. Sampai adzan dhuhur tiba, aku dan ustadz Andang pergi ke Masji Al-Islah untuk menunaikan sholat dzuhur. Ustadz Eko tidak membersamai karena beliau sedang kuliah di Pascasarjana UGM sejak aku datang tadi.

Usai sholat dzuhur, aku pamit. Sebelum pamit, aku sms ke ustadz Bayu "akh ada di kos gak?" isi smsku ke ustadz Bayu. "Assalamu'alaikum bro" sapaku untuk ustadz Andang, sambil tarik handel gas motorku. "wa'alaikumsalam bro" jawab ustadz Andang.

Di jalan Timoho, angin semilir tetap terhirup meski aku pakai helm, roda depan dan roda belakang kompak beriringan seirama dengan handel gas yang aku sesuaikan. Kijang inova tepat di sisi kananku, terlihat di depan pengendara bapak tua membawa karung besar di atas jok motornya. Aku tengokkan kepalaku ke kanan, terlihat kijang inova sudah terlalui, akan aku dahului motor bapak tua itu dari sisi kanan, meluncur zig-zag maksudku. Roda depanku menyentuh roda belakang motor bapak tua itu, salah perhitungan, akhirnya praakKKKkkk, bapak tua itu jatuh pelan, sementara aku tersungkur.

Aku pegang hidungku, ku lihat ke belakang terlihat inova ingin memelukku, aku berdiri perlahan, orang-orang mendekat, motorku dibangunkan orang-orang, aku menepi. Bapak tua itu juga menepi, membenarkan motornya, seorang wanita muda memberikan spion kanan motorku yang putus.

Pedih terasa, orang-orang mulai bepergian meninggalkan TKP, stangku yang bengkok kembali lurus, aku starter motorku, menghampiri bapak tua itu, aku tersenyum meminta maaf, bapak itu membalas senyum untukku. "ngapunten pak ngeh" kataku pada bapak yang tersenyum berdiri di samping motornya.

Usai melintasi rel kereta api, terlihat pesan pada hapeku, pesan dari ustadz Bayu "Iya akh Sby_1511". Aku batalkan mampir ke kos teman ustadz Bayu itu. Dan aku batal juga bertemu ustadz Wahid di Kampus UIN. Langsung aku pulang menuju kediamanku, jalan Kaliurang Km 14. Sebelumnya aku terasa haus, kemudian aku beli juz alpokat barat Kopma UIN depan swalayan. Bersama jus alpokat yang tinggal setengah itu, aku lanjutkan perjalanan pulang. Sesampai kos, dua bantal, kasur terbentang siap menemaniku.

Alhamdulillah
, sudah agak ringan setelah dipijat pak Mail.

22/10/2013
Ditulis di Jogja, dibaca di mana aja

Sebelum dan Sesudah Kurban Forsilam

Kertas booking tiket sudah di tangan, 13.00 keberangkatan melalui stasiun Pasar Senen. Di hari yang sama (Rabu, 16/10/13) tes CPNS pukul 10.00-11.30 WIB. Jarak tempuh dari lokasi tes ke Stasiun Pasar Senin tidak dapat terprediksi. Bisa 30 menit, bisa 60 menit bila terjadi kemacetan, lokasi kantor walikota jakarta timur menuju stasiun pasar senen. Mengatasi hal itu, hari sebelumnya Selasa (Hari Idul Adha 1434 H), kertas booking tiketku langsung aku tukarkan dengan tiket yang asli di Stasiun Pasar Senen, agar tidak mepet waktu.

Sebenarnya aku juga tidak mau waktu yang mepet-mepet seperti itu. Namun, sewaktu booking tiket, kereta ekonomi habis semua, aku pindah ke tempat booking tiket lainnya, ternyata masih ada satu tiket kereta ekonomi, dengan pukul keberangkatan 13.00 WIB. Segera aku booking tiket tersebut. Rp. 50.000,- plus biaya administrasi Rp. 6.000,-.

= = = = = = = = = = = = = = = =

Keberangkatanku menuju kantor walikota start pukul 07.00 WIB. Bersama Budi (sepupu), sekalian aku pamit untuk pulang ke Jogja, karena dari tes langsung ke stasiun. Dari Duren Tiga menuju Kantor Walikota Jakarta Timur, klakson saling bersahutan, asap knalpot terus keluar, debu-debu ikut memeriahkan jalanan jakarta. Sedikit demi sedikit kendaraan melaju, betapa macet Jakarta. Satu jam setengah berlalu, aku sampai didepan gerbang Kantor walikota.

Tersedia kursi-kursi untuk menunggu, petugas di depan pintu senyum menyapa padaku. "maaf pak untuk kamar kecil dan mushola sebelah mana ya pak?" tanyaku pada petugas itu. Usai mengarahkan atas apa yang aku tanya, aku tunaikan hajatku, ku ambil air wudhu, menuju lantai 2 ruang sholat. Subhanallah ternyata sebuah masjid besar nan megah. Aku letakkan tasku, aku lepaskan jas hitamku, aku angkat kedua tanganku, Allahu Akbar.

Jam tanganku menunjukkan pukul 11.35 WIB, setelah apa yang telah aku lalui, mulai dari menitipkan tas,  registrasi, dan tes CAT, langsung aku bergegas mengambil tas, dan berjalan cepat keluar Kantor Walikota yang luas itu. Busway atau ojek ya? Aku takut tak sampai bila memakai busway, hingga harus merelakan ketinggalan kereta yang berangkat pukul 13.00 WIB.

Aku hampiri pangkalan ojek yang bersebelahan di pinggir Kantor Walikota. "Bang kalo ke ps senen, berapa ongkos bang?" sapaku padanya sambil duduk di bangku. "gocap" jawabnya. Sebelum menawar, aku ingat kata pamanku, kira-kira ojek 20rb s/d 25rb. "haaa kemahalan itu bang, 20 rebu aja ya bang" sahutku kembali. "macet ini bang, gak berani kalo segitu, mending lu pake busway aja bang cuma tiga rebu" jawabnya. "wah kalo gocap kemahalan bang, dikurangi jadi berapalah bang?" sahutku kembali sambil melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 11. 45 WIB. "empat puluh gak papa dah, lu kan uda kerja kan" sahut tukang ojek itu. "tengah-tengahnya aja bang" kataku. "maksudnya?" tanya tukang ojek padaku. "ya tengah-tengah 20 rebu ama 40 rebu, jadi 30 rebu" kataku ke tukang ojek. "gak berani bang" sahutnya kembali. "dah gak papa bang 40 rebu ayo" jawabku. Sambil mempersiapkan motornya, starter, memberiku helm, tukang ojek berkata canda "pake rem kagak ini?". Aku jawab canda pula "remnya gak usah dipakai bang... haha".

intermezo;
kalo elu ke Jakarta, tidak ada salahnya inget-inget bahasa ini:
goceng= 5000
gopek= 500
gocap = 50
ceban = 10000

ceceng = 1000
noceng = 2000
saceng = 3000
siceng = 4000
lakceng = 6000

noban = 20000
saban = 30000
siban = 40000
goban = 50000
lakban = 60000

cepek = 100
nopek = 200
dst..

Alhamdulillah sampai Stasiun Ps Senen pukul 12.35, aku bayar ojek itu. Aku jalan cepat ke pintu masuk, yang sebelumnya aku sempatkan membeli roti dan tisu basah, kemudian aku masuk dengan menunjukkan (1) tiket (2) KTP asli. Aku ambil air wudhu, kemudian sholat jama' dhuhur 2 rakaat dan ashar 2 rakaat. Perut terasa lapar, ah nanti saja dalam kereta aku makan siang, meski mahal harganya. Usai sholat, kereta pun datang, yah gerbong 7, aku harus berdiri disini sambil menunggu sempurnanya berhentinya kereta. Aku pun masuk dan say selamat tinggal Jakarta!.

= = = = = = = = = = = = = = = =

Kurban Forsilam* Jogja 2013
*Forum Silaturahmi Alumni Assalam

Tepat di bawah AC aku duduk, aku ambil charger BB ku kemudian aku cash BB tersebut di perbatasan bangku. Aku telfon ayahku (Rabu, 16/10/2013), isi perbincanganku? mau tau aja lu? hehe. Akhirnya ayahku mau. Segera aku BBM ke Meta, Intan, sms ke Indah, Bitoh, Memey, Basri, Ahmad, Irham, kak Mahfud untuk merencanakan hari Kamis (17/10) silaturahim ke Saptosari Gunungkidul tempat KKN ku dulu, untuk mencari kambing.

Perutku yang lapar, aku menuju ruang restorasi ke gerbong 3 sepertinya. Aku ambil nasi telor plus ayam, harga 20ribu. Tambah es teh 5ribu. Sambil makan, sambil BBM-an dan menunggu sms. Pemandangan sawah, petani, pohon-pohon, rumah-rumah, jalanan, dan stasiun-stasiun menemani makan siangku saat itu.

Menginjak malam, kereta mogok, kurang lebih satu jam-an kami menunggu mesin dari stasiun kroya. Harusnya sampai Jogja jam 22.00, menjadi molor hingga 23.30 WIB. Sampai stasiun Lempuyangan aku turun, aku cari Febri yang sebelumnya sudah aku kontak. Bersama Febri, menuju Kota Gede tempat tinggalnya, santai menikmati angin malam saat itu. Hingga tiba pukul 00.00. Aku lanjutkan perjalanan menuju Jl. Kaliurang Km 14 tempat tinggalku. Cepat dan selamat hingga bisa berwudhu kembali dan tunaikan sholat Isya dan Magrib. Kurang lebih pukul 01.00 ku rehatkan tubuhku, "bismikallahumma akhya wa amuut".

Pagi hari (Kamis) aku telfon Bpk Dardi yang nomornya aku dapat kembali dari Laili mantan sekretaris saat KKN 2012 dulu, aku tanyakan kira-kira luang tidak jam 14.00 WIB, karena jam 13.00 kami berangkat menuju Gunungkidul untuk silaturakhim. Konfirmasi beliau luang, akhirnya jam 13.00 kami ke sana. Atas kesediannnya kami memasrahkan uang pada Bpk Dardi untuk membeli kambing yang akan dikurbankan untuk besok Jum'at.

Jum'at (18/10/2013), merupakan hari tasyrik yang terakhir. Berdasarkan aturannya, hari Idul Adha adalah 10 Dzulhijjah/ 15 Okt 2013. Dan hari tasyrik adalah 11,12,13 Dzulhijjah/ 16,17,18 Okt 2013. Meski tak semua teman-teman Forsilam Jogja dapat hadir karena kuliah, namun rasa kebersamaan selalu di hati. Meta, Robithoh, Indah, Musyarofah, Basri, Rahman, Mahmud yang hadir pada penyerahan dan penyembelihan ini.


Dan akhirnya, kami bermain-main ke pantainya Saptosari yaitu Pantai Ngobaran dan Pantai Ngrenehan hingga menjelang Magrib sampai Asrama Randik Putri Yogyakarta.
Proses Penyembelihan
Pantai Ngrenehan Gunungkidul

Sebelum Kembali ke Kota Jogja
Foto-foto akan diupdate jika sudah siap.

22/10/2013
Ditulis di Jogja, dibaca di mana aja

Senin, 21 Oktober 2013

Bogor: Bersama Mas Ridwan

Menuju area pasar Minggu motor mas Ridwan kehabisan bensin, dorong deh. Setelah ketemu temannya disebuah masjid, kami cari makan malam dulu, laper soalnya. Setelah makan, baru melanjutkan perjalanan menuju Bogor. Dua malam aku di Bogor dan 14 Okt 2013 aku pulang ke kontrakan lelek (paman). Sholat Idul Adha di Jakarta.

= = = = = = = = = = = = = = = =

Kurang lebih perjalanan Jakarta menuju Bogor memakan waktu 2 jam. Aku bersama mas Ridwan berboncengan, aku yang di depan, mas Ridwan yang hafidh 30 juz itu di belakang. Sementara temannya mas Ridwan sebut saja Rian berkendara sendirian. Perjalanan malam yang santai, angin menerpa tubuh kami menemani obrolan santai sambil berkendara. Suara mesin berderu, kendaraan satu dengan yang lain saling berpapasan, lampu-lampu jalan tulus menerangi jalanan. Hingga di tengah perjalanan terdapat pesan di hape mas Ridwan yang mengabarkan bahwa motor Rian bocor setelah fly over. Entah fly over daerah mana itu, aku tak paham.

Roda motor menepi ke pinggiran. Stang kemudi berbalik arah menuju fly over. Ban dalam sudah tergantikan, kami melanjutkan perjalanan. Setelah melalui jalan yang becek sepanjang 3 km, akhirnya sampai dan aku matikan mesin. Tepat di sebuah masjid yang terdapat beberapa orang menyapa mas Ridwan.

Berjalan ke timur masjid, gelap tanpa ada lampu, jejakku mengikuti mas Ridwan. Terdapat rumah bernuansa bambu yang berada di tengah kolam. Jembatan dengan lebar 1 meter menghantarkan kami ke rumah tersebut. Gelap tanpa ada penerangan. "krekkk" bunyi pintu yang tak terkunci itu. "Rian kemana mas?" kataku. "gak tau itu" jawab mas ridwan sambil menuju kamar. Lalu sms ke Rian meminta dibelikan lilin.

Satu jam kemudian Rian datang. "Assalamu'alaikum" kata Rian sambil meletakkan tasnya yang isinya antara lain lilin dan snack. Satu demi satu snack itu  terkunyah menemani obrolan malam. Badan terasa tak terkuasakan menahan letih, akhirnya tubuh terbaring menikmati bunyi malam yang khas dan meneduhkan. Di pertengahan rehat, lampu pun menyala. "Stop kontaknya emangnya dimana mas?" tanyaku. "di atas" sahut mas Ridwan. Lampu-lampu yang hidup kami matikan melalui saklar yang ada dan kami lanjutkan rehat kami.

Dua malam lamanya aku di Pesantren elTAHFIDH, mengingatkanku pada suasana lingkungan pondok dulu di Sumatera. Sudut-sudut ruangan yang ada, dipenuhi orang-orang yang menghafal Al-Qur'an. Rian dan mas Ridwan sudah 30 juzz hafal (khaamilul Qur'an: sebutan untuk hafidh Qur'an). Enam juzku yang dulu hanya setoran ke ustadz saat study di pondok, saat ini sangat dipertanyakan.

Di mana aku berada, di sana ada Al-Qur'an.
Berjalanlah selalu bersama Al-Qur'an niscaya menjadi Al-Qur'an berjalan.

Hufadh sejati..
Tercermin dari kepribadian sehari-hari.

Mendengar bunyi ikan lele sudah dirasakan, sholat berjama'ah di sana juga sudah, sarapan pagi sudah terlewati bersama,  ke Mekar Sari lagi renovasi (gak bisa deh), pergi ke suatu masjid di perumahan juga sudah hingga pulang menambah teman baru di rumah tengah kolam itu. Malam pertama hanya 4 orang, malam kedua menjadi 6 orang.

Selasa (14/10/2013) aku panasi motor dan pulang menuju Jakarta setelah sarapan pagi bersama, di warung Ummi dekat pesantren. Semangat berkendara dan say "assalamu'alaikum". "wa'alaikumsalam" sahut penghuni rumah di atas kolam.

Cerita ini tidak mengandung klimaks.

21/10/2013
Ditulis di Jogja, dibaca di mana aja

Minggu, 20 Oktober 2013

PENGALAMAN TES CPNS DI KEMENTRIAN DAN PEMDA DKI

Inilah waktunya, melangkahkan kaki, mempersiapkan kebutuhan yang kiranya diperlukan. Baju ganti, sandal, sepatu, kaos kaki, dan lain sebagainya. Ku tutup pintu kos lalu ku kunci, dari Jalan Kaliurang Km 14 menuju ke stasiun lempuyangan. Sendiri menikmati angin kencang, berbaur dengan kendaraan-kendaraan yang lain. Sambil menikmati perjalanan: "arrahman.. 'allamalqur'an.. kholaqol insaan.. 'allamahul bayaan .. assyamsu walqomarubikhusbaan.. annajmu wassajaru yasjudan.. dst" ucapku dengan nada standar yang tertutup helm. Demikian aku lakukan untuk menenangkan hati saja dan agar romantis saja di perjalanan meski hanya sendiri.

Sebelum menuju Stasiun Lempuyangan, aku arahkan motorku ke Kota Gede menghampiri Febri. Usai berjumpa langsung menuju Stasiun Lempuyangan. Namun, sebelumnya Febri menemui istrinya dulu yang aku mengikutinya hingga sampai ke salah satu TK swasta di Yogyakarta. Tak hanya itu, di pertengahan jalan isi bensin eceran dulu, takut tak sampai karena lampu indikator pada spedometer motorku sudah berkedip-kedep sejak aku berangkat.

Sesampainya di stasiun, aku turun dari motor. "nuwun yo pak, assalamu'alaikum" ucapku untuk Febri. "wa'alaikumsalam" katanya. Aku menyebrang jalan, teg terhenti sejenak dan aku menoleh kembali ke Febri. "pak, pak, pak tunggu tunggu, helmku lali kok malah rung tak copot" kataku sambil nyebrang jalan kembali. Setelah aku memberikan helmku ke Febri aku kembali  nyebrang jalan dan menuju ke loket chek-in yang cukup banyak orang yang mengantri. Sambil mengantri aku keluarkan kertas bookingku dan KTP asli dari dompetku. dompet yang sudah rusak sletingnya dan sedikit robek. Maju selangkah lalu terhenti, maju selangkah lagi lalu terhenti hingga sampai pada giliranku untuk mnyerahkan kode booking untuk diganti dengan tiket kereta api. Setelah itu, aku masuk pada ruang tunggu kereta melalui pintu yang dijaga petugas. Ku serahkan KTPku dan tiketku, setelah diperiksa kecocokan nama pada KTP dengan nama pada tiket, lalu dicap dan aku dipersilahkan masuk.

Alhamdulillah, tidak telat seperti pada 2 minggu sebelumnya dimana keberangkatan pukul 16.33 WIB, aku datang pukul 16.31 WIB. Hingga aku langsung maju ke depan menerobos orang-orang yang antri sambil berkata "maaf ya pak, kereta uda diumumkan akan memasuki terminal, keberangkatan saya 16.33 WIB" kepada orang-orang yang antri. Petugas saat itu berkata padaku "besok-besok jangan diulangi lagi ya mas, datang 1 jam sebelumnya ya" sahutnya. Setelah dapat tiket aku langsung masuk lewat pintu tanpa cek-cek KTP lagi. Ku pijakkan pada pintu kereta dengan gerbong sedapatnya, selang tak lama kereta langsung jalan pada waktu itu. Hingga aku sampai di Jakarta dan puas bisa mengikuti tes rekrutmen Pusri Palembang, meskipun sampai saat ini aku belum lagi dipanggil untuk mengikuti tes selanjutnya. Yang saat itu terdapat 2 opsi tempat tes yaitu Jakarta dan Palembang.

Opps, ceritanya kok sampai kesana? aku sedang duduk di ruang tunggu nih. Meminum es buah pemberian Istri Febri tadi saat di TK.

= = = = = = = = = = = = = = = =

Tiga puluh menit kedepan kurang lebihnya, kereta pun datang. Perjalanan dimulai, dan sampai pada Stasiun Jatinegara jam 01.20 pagi. Menunggu jemputan cukup lama, hingga pukul 02.40an pagi sampai pada kontrakan lelek (paman). Ambil air wusajadah terbentang, aku angkat tangaku dan berlafadz "Allahu Akbar".

Setelah sholat Isya dan Magrib yang aku tunaikan dalam 1 waktu, aku rebahkan badanku sejenak menunggu pagi tiba. Pagi harinya, air menguyur tubuhku, aku rapikan pakaianku, ku pakai sepatuku. Dengan kendaraan yang ada (vega R) pukul 10.00 WIB aku menuju Kantor Kementrian Koordinator Bidang Ekonomi (tepatnya barat Monas). Sesuai petunjuk panitia penerimaan CPNS, parkir kendaraan bermotor sebaiknya di Monas. Karena tak pahamnya aku daerah Monas tersebut, aku tiba di Kantor pukul 11.40 WIB. Dan siap tes pukul 13.00 WIB yang sebelumnya aku harus regristasi ulang, sholat dzuhur, dan rehat menenangkan hati (12 Okt 2013).

Tes selesai pukul 15.30 WIB, pulangku menuju kontrakan tak semulus perjalanan pergiku, aku berputar-putar hingga memakan waktu yang tak sedikit. Sesampainya di kontrakan aku pamit untuk pergi ke Bogor ke Pesantren elTahfidh bersama mas Ridwan yang sedang perjalanan dari Serang menuju Bogor. Aku tunggu mas Ridwan di Masjid Al-ikhlas Jatipadang hingga Isya datang. Setelah datang mas Ridwan cipika cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri). "mana temanmu mas?" kataku. "Nunggu deket pasar minggu" katanya.

Menuju area pasar Minggu motor mas Ridwan kehabisan bensin, dorong deh. Setelah ketemu temannya disebuah masjid, kami cari makan malam dulu, laper soalnya. Setelah makan, baru melanjutkan perjalanan menuju Bogor. Dua malam aku di Bogor dan 14 Okt 2013 aku pulang ke kontrakan lelek (paman). Sholat Idul Adha di Jakarta.

Cerita Bogor

Kamis, 16 Okt 2013 tes lagi CPNS Pemda DKI Jakarta, lokasi tes: Kantor Walikota Jakarta Timur. Singkat cerita sebenarnya aku mau bercerita bahwa: Soal CPNS terdiri dari 100 soal meliputi TWK, TIU, TKP. Jika benar mendapat poin 5, jika salah poin nol. Jadi dikerjakan semua aja. Untuk TWK semua ada nilainya, namun bobotnya berbeda dari poin terbesar adalah 5,4,3,2,1. Tes berbasis CAT. Nah, soal CPNS ternyata sebagian soal ada yang sama. Tapi kalau tidak tahu mana jawaban yang benar, ya sama aja percuma.

Lanjutan

Ngantuk nih.. . ku lihat jam hapeku terlihat 23.56


20/10/2013
Ditulis di Jogja, dibaca di mana aja