Sabtu, 03 Mei 2014

Meninggalkan Kampung Halaman

 13. Kegagalan proses menuju kampus Al-Azhar, pihak perjalanan tersebut menawarkan studi di Yaman, dan tentunya dengan menambah budget tambahan. Namun, selain berkurangnya kepercayaanku pada pihak perjalanan tersebut, kondisi orang tua saat itu menguatkan aku untuk tidak mengambil tawaran tersebut. Dari rombongan kami, ada 2 yang mengambil tawaran tersebut untuk studi di Yaman. Namun, saat adanya kerusuhan yang terjadi di Yaman saat itu (seingatku tahun 2011), mereka 2 temanku tadi memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

14. Sebelum haflah (18 Juni 2008), aku pernah mengikuti program beasiswa santri jadi dokter yang dipelopori oleh pemerintah kabupaten Musi Banyuasin bekerjasama dengan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang mana Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan baru dibuka pada tahun 2008. Namun, dalam kesempatan itu aku belum membuahkan hasil yang tentunya aku juga mengharapkannya.

15. Dari semua kejadian itu, dengan terpaksa aku putuskan untuk menunda melanjutkan studi pada jenjang berikutnya yaitu dunia perkuliahan. Informasi mengenai kampus-kampus yang ada saat itu sangatlah minim. Selain aku masih belum mengenal internet, kampus yang aku tahu saat itu hanyalah kampus-kampus yang berbasis ilmu keagamaan seperti LIPIA (Lembaga Ilmu Pendidikan Islam dan Arab) yang berada di Jakarta.

16. Aktifitasku saat itu banyak di Rumah Sakit menunggu bapak dalam penyembuhan kakinya yang patah.  Terkadang bermain ke pondok, bermain ke kos teman di Kota Palembang. Selain sayang pada orang tua, hal itu aku lakukan untuk memperbanyak pengetahuan tentang dunia kampus, yang saat itu semua kampus-kampus sudah menutup masa pendaftaran.

17. Tanto adalah temanku yang sering bersama saat di Pondok, mulai dari makan sering bersama, belajar ke Masjid, hingga mandi di sumur yang terbuka. Hanyalah ranting-ranting pepohonan kecil semak blukar yang menjadi penutupnya. Kalau ke sumur tersebut biasanya kami bertiga yaitu aku, Tanto, dan Nawawi. Sumur tersebut memang berada di luar area pondok, namun saat itu kami lebih senang mandi di sana karena airnya jernih dan alami.

18. Melalui Tanto yang sudah kuliah di salah satu kampus di Yogyakarta, berbagai informasi mengenai Jogja dan perkuliahan aku dapatkan. Mulai dari biaya hidup bulanan dari range terbawah dan teratas, biaya kos, tempat bimbingan belajar dan lain-lain. Informasi tersebut sangatlah aku butuhkan, karena saat itu orang tua merasa sangat takut bila perkuliahan hanya berhenti di tengah jalan.

19. Dahulu tahun 2008 sosial media tidaklah seperti saat sekarang. Sehingga informasi-informasi saat itu pun menjadi terbatas. Mengingat keterbatasan informasi saat itu, sekarang aku sangat senang sekali bilamana ada adik-adik yang baru lulus dari Pondok Pesantren Assalam bertanya-tanya mengenai hal-hal yang dahulu sempat aku tanyakan kepada Tanto. Bahkan, tidak hanya menunggu ada yang bertanya, aku sangat senang mensosialisasikannya mengenai Jogja kepada adik-adik, bisa via Facebook, sosialisasi ke Pondok saat aku pulang kampung.

20. Akhirnya dengan restu orang tua, saat itu aku berkeinginan untuk mengikuti program bimbingan belajar sambil mencari tahu lebih banyak mengenai kampus yang kiranya aku tepat untuk studi di sana. Aku pilih Jogja sebagai tempat menuntut ilmu. Hari Jum'at, 23 Januari 2009 aku berangkat meninggalkan kampung halaman. Di temani ibu di agen bus yang berjarak 3 km dari rumah.

21. Inilah awal petualanganku. Inilah pertama kalinya aku ke Jogja. Meski sendiri, aku tetap berani, melalui banyak provinsi, menyeberangi lautan yang suci.  Makan sendiri, di kapal bisu sendiri, saat itu serba sendiri.

22. Dengan bus yang super murah, aku nikmati perjalanan menuju Jogja. Dalam perjalanan, aku sempat memikirkan, dan membayangkan suasana terminal di Jogja. Bayanganku saat itu, suasana terminal Jogja tidak akan jauh berbeda dengan suasana terminal di Palembang, di Jakarta.

23. Ditengah malam yang kurang lebih pukul 23.00 WIB aku berhenti di Magelang, dan bisa melanjutkan perjalanan kembali pada pukul 00.00 WIB karena terjadi pertukaran mobil atau biasa disebut "oper mobil". Di sela waktu itu, aku terus menghubungi Tanto agar tetap stand by.

24. Perjalanan Magelang ke Jogja aku tidur. Sebelum tidur aku berpesan pada sopir bahwa aku nantinya akan turun di terminal Jombor. Lelah pun terobati dengan tidur, dan di tengah-tengah tidurku, tersengar sayup suara yang berbunyi: seng jombor mas. Alhamdulillah sampai juga. aku bergegas keluar, dan mengambil koper yang berada di bagasi.

Sumber foto: www.clker.com

Diselesaikan pukul 11.37 WIB.
Perpustakaan Pusat Universitas Islam Indonesia.
Yogyakarta, 03 Mei 2013.

#1#2#3

Nantikan judul selanjutnya: Pertama Kali Menginjak Bumi Jogja

0 komentar:

Posting Komentar

اُنْظُرْ مَا قَالَ, وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan. [Ali Bin Abi Thalib]

Silahkan tinggalkan pesan dengan baik dan santun.