Jumat, 02 Mei 2014

Secuplik Kisah, Sebelum ke Jogja

1. Suasana pagi yang indah, enam tahun lamanya terlewati sudah, menempuh jenjang pendidikan mulai Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah 'Aliyah. Saat itu, 18 Juni 2008 adalah acara pelepasan santriwan dan santriwati yang telah dinyatakan lulus dalam menempuh studi di Kuliyyatul Mu'alimiin wal Mu'allimaat Al-Islamiyah (KMI) Pondok Pesantren Assalam Sumatera Selatan.  Tiga ijazah yaitu ijazah pondok, ijazah negeri, ijazah praktek mengajar (amaliyah tadris) didapatkan dalam satu momen yang luar biasa yang bernama haflatul wada' (pesta perpisahan).

2. Usai momen itu, saat itu aku tetap setia menunggu kepastian. Kepastian yang tidak sebentar saat itu, yaitu kepastian keberangkatan untuk menuju ke Kampus Al-Azhar Kairo Mesir. Melalui biro perjalanan yang saat itu aku percaya, bersama teman-teman lainnya (saat itu ada satu akhwat dan tujuh ikhwan seingatku) kami saat itu cukup siap dari segi paspor, finansial, dan mental.

3. Juni, Juli, Agustus, dan September sudah terlewati. Saat itu, seraya menunggu kepastian keberangkatan, aku menyibukkan diri. Menyibukkan diri sebagai petani bersama Kakek dan Nenek di Jambi. Alhamdulillah bapak memiliki lahan 2 ha yang ditanami pohon karet di sana, tentunya lahan tersebut didapat dengan jerih payah bapak. Terbas pepohonan ranting, nyemprot rerumputan, saat itu aku jalani bersama Kakek dan Nenek. Terkadang aku juga ikut paklek Ahmad membersihkan rerumputan di bawah pohon sawit milik pakde Hajir. Lokasi sawit milik pakde tidak jauh dari lahan bapak. Saat itu, ketika malam hari, terkadang aku tidur di gubuk yang dibangun di lokasi lahan bersama Kakek, dan terkadang tidur di rumah pakde. Meski di gubuk tidak ada listrik, saat itu aku tetap menikmati.

4. Di suatu hari, bapak dan adikku Qoni'in menjengukku di Jambi. Dengan menggunakan sepeda motor, bapak dan adik berangkat dari rumah (Sumsel) menuju Jambi. Perjalanan saat itu kurang lebih 4 jam dengan kecepatan standar. Selain bersilaturahmi ke mertuanya itu, tujuan bapak adalah menjenguk ladangnya. Hidup bapak aku akui memang cukup gigih dan bertahap, hidupnya dimulai dari nol bersama ibu. Saat itu guru honorer, dan diangkat menjadi PNS setelah menikah dengan ibuku, yang saat itu sempat menjadi muridnya. Hidup bapak memang di Sumatera, karena orang tua dari bapak sudah pergi lebih dahulu untuk selamanya.

5. Aku sempat pergi berdua bersama adik ke pasar untuk melihat-lihat barang dagangan yang digelar oleh para pedagang. Siapa tahu ada barang yang cukup menarik untuk dibeli. Pasar menjadi ramai tidak seperti biasanya, karena saat itu adalah bulan Ramadhan. Jadi kebutuhan Ramadhan dan lebaran sudah dipersiapkan oleh para pedagang.

5. Impianku untuk menjadi Mahasiswa di Kampus Al-Azhar saat itu menjadi ragu. Ragu antara berangkat ataupun tidak berangkat. Kepulangan bapak dan adik membuatku sedih, saat itu aku tetap tinggal di rumah pakde bersama Kakek dan Nenek di Jambi dan berencana lebaran di sana. Hal yang membuatku lebih sedih lagi, saat kurang lebih pukul 16.00 WIB menjelang berbuka puasa, aku mendapat kabar bahwa motor yang dikendarai bapak dan adik tertumbur oleh pick up. Saat itu aku hanya bisa berdo'a semoga kecelakaan itu tidak parah dan tidak terjadi apa-apa.

6. Seusai berbuka puasa, aku langsung pulang ke Sumsel bersama paklek Ahmad dengan mengendarai sepeda motor, bismillah. Untuk mencari kendaraan umum tidak mudah saat itu. Di tengah-tengah perjalanan kami mendapat kabar bahwa bapak dan adik sudah berada di Rumah Sakit. Niat kami yang awalnya ingin langsung menuju rumah sakit, tertunda, karena hari sudah malam dan rawan jika malam-malam ke Rumah Sakit. Pukul 22.00 WIB kami sampai rumah, dan aku disuruh untuk menyiapkan pakaian-pakaian bapak dan adik untuk dibawa saat keesokan harinya.

7. Hari mulai larut malam, handphone berdering, kabar duka tidak bisa ditolak. Aku dan paklek mengabarkan ke warga sekitar. Sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, mendekati waktu sahur, mobil ambulance sampai di depan rumah. Saat itu, aku hanya menangis di dalam hati, meski ibu memelukku dengan tangis, aku masih menangis di dalam hati. Di hadapan warga yang berkumpul di ruang tamu, di hadapan jenazah adikku (kelas 1 Madrasah 'Aliyah), aku hanya duduk diam. Ibuku yang mencoba tidak menangis, kembali menangis saat menceritakan tentang adikku itu. Di sela-sela cerita itu, aku turut meneteskan air mata.

8. Dimandikan, disholatkan, dan dimakamkan. Teman-teman sekelas adikku alm, teman-temanku, para asatidz-asatidzah Pondok Pesantren Assalam (Ust. Masrur Musir, Lc., Ust. Malik Musir, Lc., dll), dan para warga tampak hadir di pelataran halaman rumah. Kasihan bapak, yang saat itu masih di Rumah Sakit tidak bisa ikut dalam proses pemakaman. Kakakku juga tidak bisa hadir saat itu, karena domisili yang jauh bersama suaminya di Riau sana.

9. Kejadian 12 September 2008 atau 12 Ramadhan 1430 saat itu, menjadikanku mendapat dua pendapat. Pendapat pertama dari warga sekitar, bahwa kepergian ke Mesir-nya dibatalkan saja, kasihan ibu. Pendapat kedua dari seorang Dosen Pertanian Universitas Jambi, bahwa kesempatan itu tidak akan datang untuk kedua kalinya, maka ke Mesir-nya dilanjutkan saja.

10. Di tengah kebimbangan itu, masih belum ada kepastian untuk kepergian ke Mesir. Hingga tiba kepastian, yang saat itu aku pahami adalah dalam proses perjalanan ke Mesir terdapat problem. Problem tersebut berbentuk samar, saat itu yang aku ingat adalah pihak KBRI tidak meloloskan proses tersebut. Hingga, uang perjalanan tersebut dikembalikan, meskipun tidak utuh 100%. Paspor yang telah terbuat saat itu hanya bisa menjadi hiasan dalam lemari saja.

11. Aku saat itu sangat berkeyakinan bahwa rencana Allah sungguh sangat manis, yang tidak sedikit manusia tidak bisa mencicipi manisnya tersebut.

12. Dari 2008 hingga kini aku tuliskan ini, dari proses operasi yang berkali-kali, kesembuhan untuk bapak belum hadir. Meski pakai dua tongkat, bapak memaksakan diri untuk tetap mengajar. Aku cukup bangga, semoga kesembuhan bisa dipetik. Untuk ibu, semoga tetap sabar dengan keadaan bapak. Aku cukup bangga, semoga syurga semakin pantas untukmu. Untuk adik yang sudah mendahului pergi untuk selamanya, aku do'akan selalu semoga kau kekal dalam jannah-Nya.

Diselesaikan pukul 16.17 WIB.
Perpustakaan Pusat Universitas Islam Indonesia.
Yogyakarta, 02 Mei 2013.

#1#2
#3

Nantikan judul selanjutnya: Go Out From My Village

0 komentar:

Posting Komentar

اُنْظُرْ مَا قَالَ, وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan. [Ali Bin Abi Thalib]

Silahkan tinggalkan pesan dengan baik dan santun.