ALLAH TIDAK PERNAH MENGUJI KITA

Allah Tidak Pernah Menguji Kita, Melainkan Sesuatu yang Kita Anggap Ujian adalah Sebuah Nikmat yang Belum Terlihat. (Mahmud Basuki)

KOMENTAR

Komentar Anda Secara Tidak Disadari Telah Mengomentari Anda. So, Berkomentarlah yang Baik-baik. (Mahmud Basuki)

SEMANGAT BABAT ALAS

Tuntaskan Amanat, Memaksimalkan Prioritas Utama - QS. Al-Anfal: 27

TETAP BERDO'A LALU BERUSAHA

Ya Allah ketika kami berbaik sangka dengan orang lain, maka baikkanlah prasangka itu sesuai prasangka baik kami ya Allah, jauhkan dari ketidak sesuaian prasangka baik kami. (Mahmud Basuki)

Sabtu, 03 Mei 2014

Meninggalkan Kampung Halaman

 13. Kegagalan proses menuju kampus Al-Azhar, pihak perjalanan tersebut menawarkan studi di Yaman, dan tentunya dengan menambah budget tambahan. Namun, selain berkurangnya kepercayaanku pada pihak perjalanan tersebut, kondisi orang tua saat itu menguatkan aku untuk tidak mengambil tawaran tersebut. Dari rombongan kami, ada 2 yang mengambil tawaran tersebut untuk studi di Yaman. Namun, saat adanya kerusuhan yang terjadi di Yaman saat itu (seingatku tahun 2011), mereka 2 temanku tadi memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

14. Sebelum haflah (18 Juni 2008), aku pernah mengikuti program beasiswa santri jadi dokter yang dipelopori oleh pemerintah kabupaten Musi Banyuasin bekerjasama dengan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang mana Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan baru dibuka pada tahun 2008. Namun, dalam kesempatan itu aku belum membuahkan hasil yang tentunya aku juga mengharapkannya.

15. Dari semua kejadian itu, dengan terpaksa aku putuskan untuk menunda melanjutkan studi pada jenjang berikutnya yaitu dunia perkuliahan. Informasi mengenai kampus-kampus yang ada saat itu sangatlah minim. Selain aku masih belum mengenal internet, kampus yang aku tahu saat itu hanyalah kampus-kampus yang berbasis ilmu keagamaan seperti LIPIA (Lembaga Ilmu Pendidikan Islam dan Arab) yang berada di Jakarta.

16. Aktifitasku saat itu banyak di Rumah Sakit menunggu bapak dalam penyembuhan kakinya yang patah.  Terkadang bermain ke pondok, bermain ke kos teman di Kota Palembang. Selain sayang pada orang tua, hal itu aku lakukan untuk memperbanyak pengetahuan tentang dunia kampus, yang saat itu semua kampus-kampus sudah menutup masa pendaftaran.

17. Tanto adalah temanku yang sering bersama saat di Pondok, mulai dari makan sering bersama, belajar ke Masjid, hingga mandi di sumur yang terbuka. Hanyalah ranting-ranting pepohonan kecil semak blukar yang menjadi penutupnya. Kalau ke sumur tersebut biasanya kami bertiga yaitu aku, Tanto, dan Nawawi. Sumur tersebut memang berada di luar area pondok, namun saat itu kami lebih senang mandi di sana karena airnya jernih dan alami.

18. Melalui Tanto yang sudah kuliah di salah satu kampus di Yogyakarta, berbagai informasi mengenai Jogja dan perkuliahan aku dapatkan. Mulai dari biaya hidup bulanan dari range terbawah dan teratas, biaya kos, tempat bimbingan belajar dan lain-lain. Informasi tersebut sangatlah aku butuhkan, karena saat itu orang tua merasa sangat takut bila perkuliahan hanya berhenti di tengah jalan.

19. Dahulu tahun 2008 sosial media tidaklah seperti saat sekarang. Sehingga informasi-informasi saat itu pun menjadi terbatas. Mengingat keterbatasan informasi saat itu, sekarang aku sangat senang sekali bilamana ada adik-adik yang baru lulus dari Pondok Pesantren Assalam bertanya-tanya mengenai hal-hal yang dahulu sempat aku tanyakan kepada Tanto. Bahkan, tidak hanya menunggu ada yang bertanya, aku sangat senang mensosialisasikannya mengenai Jogja kepada adik-adik, bisa via Facebook, sosialisasi ke Pondok saat aku pulang kampung.

20. Akhirnya dengan restu orang tua, saat itu aku berkeinginan untuk mengikuti program bimbingan belajar sambil mencari tahu lebih banyak mengenai kampus yang kiranya aku tepat untuk studi di sana. Aku pilih Jogja sebagai tempat menuntut ilmu. Hari Jum'at, 23 Januari 2009 aku berangkat meninggalkan kampung halaman. Di temani ibu di agen bus yang berjarak 3 km dari rumah.

21. Inilah awal petualanganku. Inilah pertama kalinya aku ke Jogja. Meski sendiri, aku tetap berani, melalui banyak provinsi, menyeberangi lautan yang suci.  Makan sendiri, di kapal bisu sendiri, saat itu serba sendiri.

22. Dengan bus yang super murah, aku nikmati perjalanan menuju Jogja. Dalam perjalanan, aku sempat memikirkan, dan membayangkan suasana terminal di Jogja. Bayanganku saat itu, suasana terminal Jogja tidak akan jauh berbeda dengan suasana terminal di Palembang, di Jakarta.

23. Ditengah malam yang kurang lebih pukul 23.00 WIB aku berhenti di Magelang, dan bisa melanjutkan perjalanan kembali pada pukul 00.00 WIB karena terjadi pertukaran mobil atau biasa disebut "oper mobil". Di sela waktu itu, aku terus menghubungi Tanto agar tetap stand by.

24. Perjalanan Magelang ke Jogja aku tidur. Sebelum tidur aku berpesan pada sopir bahwa aku nantinya akan turun di terminal Jombor. Lelah pun terobati dengan tidur, dan di tengah-tengah tidurku, tersengar sayup suara yang berbunyi: seng jombor mas. Alhamdulillah sampai juga. aku bergegas keluar, dan mengambil koper yang berada di bagasi.

Sumber foto: www.clker.com

Diselesaikan pukul 11.37 WIB.
Perpustakaan Pusat Universitas Islam Indonesia.
Yogyakarta, 03 Mei 2013.

#1#2#3

Nantikan judul selanjutnya: Pertama Kali Menginjak Bumi Jogja

Jumat, 02 Mei 2014

Secuplik Kisah, Sebelum ke Jogja

1. Suasana pagi yang indah, enam tahun lamanya terlewati sudah, menempuh jenjang pendidikan mulai Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah 'Aliyah. Saat itu, 18 Juni 2008 adalah acara pelepasan santriwan dan santriwati yang telah dinyatakan lulus dalam menempuh studi di Kuliyyatul Mu'alimiin wal Mu'allimaat Al-Islamiyah (KMI) Pondok Pesantren Assalam Sumatera Selatan.  Tiga ijazah yaitu ijazah pondok, ijazah negeri, ijazah praktek mengajar (amaliyah tadris) didapatkan dalam satu momen yang luar biasa yang bernama haflatul wada' (pesta perpisahan).

2. Usai momen itu, saat itu aku tetap setia menunggu kepastian. Kepastian yang tidak sebentar saat itu, yaitu kepastian keberangkatan untuk menuju ke Kampus Al-Azhar Kairo Mesir. Melalui biro perjalanan yang saat itu aku percaya, bersama teman-teman lainnya (saat itu ada satu akhwat dan tujuh ikhwan seingatku) kami saat itu cukup siap dari segi paspor, finansial, dan mental.

3. Juni, Juli, Agustus, dan September sudah terlewati. Saat itu, seraya menunggu kepastian keberangkatan, aku menyibukkan diri. Menyibukkan diri sebagai petani bersama Kakek dan Nenek di Jambi. Alhamdulillah bapak memiliki lahan 2 ha yang ditanami pohon karet di sana, tentunya lahan tersebut didapat dengan jerih payah bapak. Terbas pepohonan ranting, nyemprot rerumputan, saat itu aku jalani bersama Kakek dan Nenek. Terkadang aku juga ikut paklek Ahmad membersihkan rerumputan di bawah pohon sawit milik pakde Hajir. Lokasi sawit milik pakde tidak jauh dari lahan bapak. Saat itu, ketika malam hari, terkadang aku tidur di gubuk yang dibangun di lokasi lahan bersama Kakek, dan terkadang tidur di rumah pakde. Meski di gubuk tidak ada listrik, saat itu aku tetap menikmati.

4. Di suatu hari, bapak dan adikku Qoni'in menjengukku di Jambi. Dengan menggunakan sepeda motor, bapak dan adik berangkat dari rumah (Sumsel) menuju Jambi. Perjalanan saat itu kurang lebih 4 jam dengan kecepatan standar. Selain bersilaturahmi ke mertuanya itu, tujuan bapak adalah menjenguk ladangnya. Hidup bapak aku akui memang cukup gigih dan bertahap, hidupnya dimulai dari nol bersama ibu. Saat itu guru honorer, dan diangkat menjadi PNS setelah menikah dengan ibuku, yang saat itu sempat menjadi muridnya. Hidup bapak memang di Sumatera, karena orang tua dari bapak sudah pergi lebih dahulu untuk selamanya.

5. Aku sempat pergi berdua bersama adik ke pasar untuk melihat-lihat barang dagangan yang digelar oleh para pedagang. Siapa tahu ada barang yang cukup menarik untuk dibeli. Pasar menjadi ramai tidak seperti biasanya, karena saat itu adalah bulan Ramadhan. Jadi kebutuhan Ramadhan dan lebaran sudah dipersiapkan oleh para pedagang.

5. Impianku untuk menjadi Mahasiswa di Kampus Al-Azhar saat itu menjadi ragu. Ragu antara berangkat ataupun tidak berangkat. Kepulangan bapak dan adik membuatku sedih, saat itu aku tetap tinggal di rumah pakde bersama Kakek dan Nenek di Jambi dan berencana lebaran di sana. Hal yang membuatku lebih sedih lagi, saat kurang lebih pukul 16.00 WIB menjelang berbuka puasa, aku mendapat kabar bahwa motor yang dikendarai bapak dan adik tertumbur oleh pick up. Saat itu aku hanya bisa berdo'a semoga kecelakaan itu tidak parah dan tidak terjadi apa-apa.

6. Seusai berbuka puasa, aku langsung pulang ke Sumsel bersama paklek Ahmad dengan mengendarai sepeda motor, bismillah. Untuk mencari kendaraan umum tidak mudah saat itu. Di tengah-tengah perjalanan kami mendapat kabar bahwa bapak dan adik sudah berada di Rumah Sakit. Niat kami yang awalnya ingin langsung menuju rumah sakit, tertunda, karena hari sudah malam dan rawan jika malam-malam ke Rumah Sakit. Pukul 22.00 WIB kami sampai rumah, dan aku disuruh untuk menyiapkan pakaian-pakaian bapak dan adik untuk dibawa saat keesokan harinya.

7. Hari mulai larut malam, handphone berdering, kabar duka tidak bisa ditolak. Aku dan paklek mengabarkan ke warga sekitar. Sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, mendekati waktu sahur, mobil ambulance sampai di depan rumah. Saat itu, aku hanya menangis di dalam hati, meski ibu memelukku dengan tangis, aku masih menangis di dalam hati. Di hadapan warga yang berkumpul di ruang tamu, di hadapan jenazah adikku (kelas 1 Madrasah 'Aliyah), aku hanya duduk diam. Ibuku yang mencoba tidak menangis, kembali menangis saat menceritakan tentang adikku itu. Di sela-sela cerita itu, aku turut meneteskan air mata.

8. Dimandikan, disholatkan, dan dimakamkan. Teman-teman sekelas adikku alm, teman-temanku, para asatidz-asatidzah Pondok Pesantren Assalam (Ust. Masrur Musir, Lc., Ust. Malik Musir, Lc., dll), dan para warga tampak hadir di pelataran halaman rumah. Kasihan bapak, yang saat itu masih di Rumah Sakit tidak bisa ikut dalam proses pemakaman. Kakakku juga tidak bisa hadir saat itu, karena domisili yang jauh bersama suaminya di Riau sana.

9. Kejadian 12 September 2008 atau 12 Ramadhan 1430 saat itu, menjadikanku mendapat dua pendapat. Pendapat pertama dari warga sekitar, bahwa kepergian ke Mesir-nya dibatalkan saja, kasihan ibu. Pendapat kedua dari seorang Dosen Pertanian Universitas Jambi, bahwa kesempatan itu tidak akan datang untuk kedua kalinya, maka ke Mesir-nya dilanjutkan saja.

10. Di tengah kebimbangan itu, masih belum ada kepastian untuk kepergian ke Mesir. Hingga tiba kepastian, yang saat itu aku pahami adalah dalam proses perjalanan ke Mesir terdapat problem. Problem tersebut berbentuk samar, saat itu yang aku ingat adalah pihak KBRI tidak meloloskan proses tersebut. Hingga, uang perjalanan tersebut dikembalikan, meskipun tidak utuh 100%. Paspor yang telah terbuat saat itu hanya bisa menjadi hiasan dalam lemari saja.

11. Aku saat itu sangat berkeyakinan bahwa rencana Allah sungguh sangat manis, yang tidak sedikit manusia tidak bisa mencicipi manisnya tersebut.

12. Dari 2008 hingga kini aku tuliskan ini, dari proses operasi yang berkali-kali, kesembuhan untuk bapak belum hadir. Meski pakai dua tongkat, bapak memaksakan diri untuk tetap mengajar. Aku cukup bangga, semoga kesembuhan bisa dipetik. Untuk ibu, semoga tetap sabar dengan keadaan bapak. Aku cukup bangga, semoga syurga semakin pantas untukmu. Untuk adik yang sudah mendahului pergi untuk selamanya, aku do'akan selalu semoga kau kekal dalam jannah-Nya.

Diselesaikan pukul 16.17 WIB.
Perpustakaan Pusat Universitas Islam Indonesia.
Yogyakarta, 02 Mei 2013.

#1#2
#3

Nantikan judul selanjutnya: Go Out From My Village

Maidany - Dua Wajah

Musiknya terasa sahdu sekali, bagiku cocok untuk dimana saja, saat lagi nyetir cocok, sebagai penghantar tidur juga cocok.

Dua Wajah


Album : Dua Wajah
Munsyid : Maidany

Kawan mungkin engkau lihat ia selalu tersenyum padamu
Namun dibalik senyumnya
Ternyata ia menyimpan duka yang pilu

Kawan mungkin engkau lihat ia selalu bercanda padamu
Namun di balik riangnya
Ternyata ia menyimpan air mata sayu, kita tiada tahu

Kita terkadang menyembunyikan perasaan kita sebenarnya pada manusia
Untuk menyimpan wajah hati kita yang sesungguhnya
Seperti dua wajah pada satu tubuh

Lihatlah lebih dekat saudara kita, agar tidak menerka isi hatinya
Bila tiada dapat menjadi teman baiknya, jadilah saudara yang selalu mendo’akannya

Setiap kita punya kisah
Setiap kita punya cerita
Setiap jiwa punya rahasia
Di mana hanya Allah yang tahu

Kita tiada tahu isi hati manusia
 
By: Si Jiwa

Maidany - Dua Wajah.mp3

Ketika Rem Mobil Blong

1. Kalem 'ojo' panik. Jika ada penumpang, jangan beri tahu para penumpang, 'meneng wae'.

2. Sambil memompa rem, bunyikan klakson dan nyalakan lampu hazard agar mobil di sekitar tahu bahwa kendaraan sedang darurat.

3. Manfaatkan efek kerja engine break.
- Kalau mobil manual, kurangi kecepatan dengan memindahkan gigi perseneling secara bertahap (5-4-3-2-1), jangan turunkan gigi secara langsung, misalnya dari gigi 4 langsung ke gigi 2 atau 1 karena itu akan membuat kehilangan kendali.
- Kalau mobil otomatis, turunkan gigi ke tingkat terendah, biasanya gigi 1.

4. Kalau bertemu benda mati, seperti trotoar, batu, dll tumburkan secara menyamping, setidaknya bisa membantu menurunkan kecepatan mobil. Tentunya sambil melihat-lihat cukup amankah dengan jarak kendaraan lain.

5. Bila di atas tidak berhasil, maka dengan terpaksa harus mempergunakan rem tangan (hand break). Hati-hati, lakukan secara perlahan dan jangan mendadak. Tarik secara perlahan sambil terus merasakan gigitan rem itu di kaliper roda. Atur tekanan dalam pengereman darurat ini, jika sudah terasa rem tergigit, pertahankan posisi itu sampai mobil melambat.

Jangan mau untuk PRAKTEK hal ini, berbahaya, nyawa taruhannya (apalagi kamu belum menikah "hee"). Cukup untuk pengetahuan saja.


2 Mei 2014